Metode1Menghadapi Kematian Orang Tercinta. 1. Ketahuilah bahwa perasaan duka adalah sesuatu yang alami. Jangan berkecil hati atau kesal kepada diri sendiri, atau khawatir kalau Anda akan tidak dapat melanjutkan hidup. Setelah kematian seseorang yang kita cintai, wajar untuk merasa sedih, kesal, dan kehilangan.
Biasanya keputusasaan muncul karena kita sudah tidak sanggup lagi menanggung beban hidup yang semakin berat. Kabar baiknya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia mengatakan bahwa apabila kita berseru dan datang untuk berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mendengarkan. Apabila kita mencari-Nya, Dia memberi diri untuk kita temukan.
Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa, 22 Juli 2018: Markus 6: 30-34)
Vay Tiền Nhanh. Krisis yang berkepanjangan bisa menyebabkan guncangan mental yang luar biasa bagi seseorang. Terlepas dari berbagai faktor, dalam keadaan seperti ini, bagi mereka yang lemah imannya akan mengalami keputusasaan dari berharap rahmat Allah SWT. Lebih buruknya adalah mengharapkan kematian segera. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah bolehkah seseorang berdoa mengharap kematian? Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 58 menjelaskan sebagai berikut ويُكره تمني الموت، والدعاء به، لضر ينزل بالإنسان، من مرض أوفقر أو نحو ذالك من شدائد الدنيا فإن خاف فتنة في دينه جاز له تمنيه، وربما نُدِبَ Artinya “Adalah makruh tidak disukai mengharapkan mati atau berdoa memohon kematian disebabkan penderitaan yang menimpa seseorang, seperti penyakit, kemiskinan, dan hal-hal semacam itu yang merupakan kesengsaraan dunia. Namun jika ia merasa takut hal itu akan menjadi fitnah godaan berat terhadap agamanya, maka hal itu diperbolehkan, dan terkadang malah dianjurkan.” Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa hukum mengharapkan atau berdoa memohon kematian disebabkan merasa tidak kuat atas penderitaan dan kesulitan yang bersifat jasmani seperti terkena penyakit yang parah, terhimpit kemiskinan yang menyengsarakan, dan sebagainya, adalah makruh. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi sebagai berikut لا يَتَمَنَّيَنَّ أحدكم الموت لضر نزل به، فإن كان لا بد فاعلاً فليقل اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرًا لي، وتوفني إذا كانت الوفاة خيرًا لي. Artinya “Jangan sekali-kali ada orang di antara kalian menginginkan kematian karena tertimpa suatu bencana. Namun jika sangat terpaksa, maka sebaiknya ia mengucapkan doa Ya Allah biarkanlah aku hidup sekiranya hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku sekiranya kematian itu lebih baik bagiku’.” Kutipan di atas menjelaskan mengharapkan kematian sesungguhnya tidak dianjurkan sekalipun dilatarbelakangi kesengsaraan karena tertimpa bencana, misalnya. Namun demikian pada tingkat tertentu hal itu bisa dibenarkan dengan catatan cara memohonnya harus dengan doa yang tidak mencerminkan keputusasaan. Doa tersebut harus seperti yang diajarkan Rasulullah SAW sebagaimana dicontohkan dalam hadits di atas, yakni tidak memohon kematian itu sendiri secara mutlak tetapi lebih memasrahkannya kepada Allah SWT yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Maksudnya biarlah Allah sendiri yang memutuskan apakah seseorang akan dimatikan atau dipertahankan hidup sebab pada hakikatnya hanya Allah yang mengetahui mana yang lebih baik antara hidup dan mati. Bisa jadi Allah tetap mempertahankan hidup seseorang dengan maksud memberinya kesempatan untuk menambah kebaikan-kebaikannya atau memperbaiki diri sebagai pertobatan bagi yang banyak dosanya. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut لا يَتَمَنَّى أحدكم الموت، إما محسن فلعله يزداد، وإما مسيء فلعله يَسْتَعْتِبُ. Artinya “Janganlah ada seseorang dari kalian yang mengharapkan kematian. Jika ia orang yang baik, mudah-mudahan hal itu menambah kebaikannya. Dan jika ia orang yang buruk semoga ia dapat memanfaatkannya untuk bertobat.” Selanjutnya Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan di halaman yang sama hal. 58 bahwa kematian seseorang sesungguhnya telah ditetapkan dengan qadha’-Nya sebagaimana kutipan berikut ini إن الموت أمر مكتوب على جميع الأنام، وقضاء محتوم على الخاص والعام، وقد سوى الله فيه بين القوي والضعيف، والوضيع والشريف. Artinya “Sesungguhnya kematian adalah sesuatu perkara yang telah ditetapkan pada seluruh manusia dan berlaku tanpa terkecuali. Allah tidak pilih kasih dalam hal ini sehingga tidak memandang kuat lemahnya fisik seseorang ataupun tinggi rendahnya kedudukan mereka di masyarakat.” Kesimpulannya, berdoa memohon kematian sesungguhnya tidak baik dan tidak perlu apa pun alasannya sebab kematian seseorang sesungguhnya telah ditetapkan oleh Allah SWT sebelum kelahirannya ke alam dunia ini. Oleh karena itu siapa pun, terutama mereka yang berada dalam kondisi kritis, sebaiknya dapat memandang hidup apa pun kondisinya sebagai kesempatan untuk beramal baik. Orang yang sudah baik diharapkan dapat menambah kebaikannya; sedangkan yang belum baik diharapkan dapat memanfaatkannya untuk bertobat sebelum ajal benar-benar menjemputnya. Penulis Muhammad Ishom Editor Agung Gumelar Sumber
Dalam menjalani bahtera kehidupan, seorang manusia pastinya melewati lika-liku jalan kehidupan, kadang bernasib baik dan kadangan sebaliknya. Jalan baik menghadapi semuanya adalah pasrah dengan ketentuan Allah Swt. Namun ada kalanya, ketika seseorang berada pada titik jenuh dan lelah dalam menghadapi segala masalah yang menimpanya, tak jarang terbersit dalam hati bahwa jalan keluarnya adalah memohon kepada Allah untuk memutus ajalnya. Lantas apakah boleh berdoa memohon kematian?Dalam kitab hadits Sunan An-Nasâi tercantum sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas RAقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِArtinya, “Rasulullah SAW bersabda, Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan mati sebab kesengsaraan yang menimpanya,” HR An-Nasâ`i.Hadits di atas menunjukkan suatu larangan akan meminta kematian karena kesengsaraan yang menimpanya, seakan-akan menunjukkan kejenuhannya dalam menerima takdir Allah SWT. Padahal jika ia mampu menghadapinya, maka Allah akan mengganjarnya dengan ada pengecualian, sebagaimana yang dijelaskan oleh As-Sindi dalam Hâsyiyah Sunan An-Nasâiوَلَا يُكْرَهُ التَّمَنِّي لِخَوْفٍ فِي دِيْنِهِ مِنْ فَسَادٍArtinya, “Dan tidak makruh meminta mati karena takut agamnya rusak,” Lihat Syekh Abul Hasan As-Sindi, Hâsyiyatus Sindi alân Nasâ`i, [Maktabah al-Mathbû’ah al-Islâmiyyah], juz IV, hal 2.Meski demikian ketika seseorang melakukan kemaksiatan dan dosa, hingga putus harapan dari ampunan Allah SWT dan terbersit dalam benaknya bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar agar tidak berbuat dosa lagi bukanlah suatu hal yang SAW bersabdaلَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْمَوْتَ، إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَArtinya, “Janganlah salah seorang dari kalian berharap untuk mati, ada kalanya ia seorang yang baik, barang kali kebaikannya akan bertambah, dan ada kalanya dia adalah orang yang berbuat keburukan, barang kali ia akan bertobat dari kesalahannya,” HR An-Nasâ`i.Syekh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan hadits di atas dalam Hâsyiyah-nyaاما يكون محسنا فليس له أن يتمنى فإنه لعله يزداد خيرا بالحياة وأما مسيئا فكذلك ليس له أن يتمنى فإنه لعله أن يستعتب أي يرجع عن الإساءة ويطلب رضا الله تعالى بالتوبةArtinya, “Ada kalanya dia adalah seorang yang berbuat baik, maka tidak berhak baginya berharap untuk mati, barang kali kebaikannya akan bertambah jika ia hidup, dan ada kalanya dia orang yang berbuat keburukan, begitu pula tidak berhak baginya berharap untuk mati, barang kali ia tobat atau berhenti dari perbuatan buruk itu dan meminta keridhaan Allah SWT dengan bertobat,” Lihat Syekh Abul Hasan As-Sindi, Hâsyiyatus Sindi alân Nasâ`i, [Maktabah al-Mathbû’ah al-Islâmiyyah], juz IV, hal 2.Berharap mati memang tidak boleh, apalagi disebabkan oleh kesengsaraan yang menimpa kita, karena kita tidak tahu apakah kematian ketika itu adalah hal baik atau buruk untuk kita. Maka dari itu, Nabi menganjurkan agar tidak berdoa meminta kematian, namun berdoalah memita kebaikan seperti doa berikut iniاللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِيArtinya, “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku selama wafat itu baik bagiku,” HR An-Nasâ`i.Dari penjelasan di atas, hendaknya kita selalu bersabar atas ujian yang menimpa dalam kehidupan kita, barang kali ujian tersebut merupakan ladang pahala bagi kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam.Ustadz Amien Nurhakim
Kejahatan dan penderitaan saling terkait dengan kehidupan manusia. Rasa sakit dan penderitaan manusia lebih besar daripada makhluk lain, karena manusia diciptakan lemah QS. An-Nisa 28. Dari kelahiran hingga kematian, manusia dihadapkan pada banyak masalah dunia. Masalah dalam kehidupan, harus dihadapi dengan penuh optimisme bahwa masalah apapun pasti memiliki jalan keluar. Namun, tidak dipungkiri beberapa masalah kadang membuat kita hampir putus asa. Putus asa adalah perasaan kehilangan harapan, optimisme, dan gairah hidup. Sehingga, seorang yang putus asa percaya bahwa tidak ada jalan keluar bagi masalahnya, dan enggan untuk melakukan apapun agar bisa keluar dari kondisinya tersebut. Padahal, sesalah apapun diri kita dalam menjalani kehidupan ini, sehingga mengalami kerugian dan penderitaan, kita tidak boleh kehilangan harapan atas keselamatan dan kebahagiaan diri kita kedepannya. Allah SWT telah memotivasi kita, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya QS. Az-Zumar 5 Al-Quran mengakui kepastian manusia menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar QS. Al-Baqarah 155. Ayat ini setidaknya bermaksud mempersiapkan orang-orang beriman untuk menanggulangi kesulitan, di jalan para nabi dan membuat kita sadar bahwa cobaan ilahi tidak menyiksa. Jadi, langkah utama yang harus kita ambil dalam menghadapi masa-masa keputusasaan ialah meluruskan presepsi kita. Bagaimananpun, kita harus berusaha memberikan tanggapan atau penerimaan yang tepat terhadap masalah yang sedang dihadapi. Persepsi individu tentang kekuatan dan kemampuannya adalah penentu utama dalam menghadapi kesulitan. Sebab, apabila seseorang merasa dia tidak mampu mengatasi masalah dengan sukses, ia akan lebih kesulitan menghadapi masalahnya, terlepas dari semua keterampilan yang dipelajari. Sebagai seorang Muslim, kita memandang musibah dan malapetaka sebagai ujian Allah yang memberi kita kesempatan untuk bertobat dan berkembang menjadi lebih baik baik lagi. Ujian hidup membantu perkembangan manusia, serta berkontribusi pada nilai positif yang sering kali tidak disadari. Seperti menaikan tingkatan keshalehan kita atau memberikan kesempatan untuk menangani peristiwa tersebut dengan lebih baik di kemudian hari. Allah SWT telah melengkapi kita dengan sarana dan instrumen pertahanan mental, untuk dimanfaatkan sebanyak mungkin, agar kita jangan sampai berputus asa. Salah satunya ialah dengan Istilah kesabaran mengandung arti bahwa di dalam hati manusia terdapat daya tahan yang membuatnya mampu mengendalikan sistem indrawinya, menghindarkan hatinya dari emoosi berlebih, serta menghindari pikiran buruk dan merusah. Kesabaran disebutkan berulang-ulang dalam banyak ayat al-Quran. Sabar merupakan satu-satunya perbuatan yang akan diganjar pahala yang tak terbatas dan terhitung banyaknya QS. Az-Zumar 10. Kesabaran tidak berarti bahwa seseorang diam tersungkur, melainkan tidak menyerah pada penderitaan dan kesulitan. Dalam beberapa ayat tentang sabar, kata kesabaran juga disertai dengan kata sifat indah dan terbaik, yang ditafsirkan sebagai kesabaran tanpa keluhan, sebagaimana Nabi Yakub AS menyebutkan “bersabar itulah yang terbaik bagiku†QS. Yusuf 18. Kita diajarkan untuk berfokus pada pengendalian emosi dan pemecahan masalah, serta tidak menyerah dan putus asa. …Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, juga tidak patah semangat dan tidak pula menyerah. Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabarQS. Ali Imran 146. Islam berusaha melatih manusia yang memahami bahwa penderitaan adalah bagian yang melekat pada dunia. Pandangan ini telah melatih manusia sedemikian rupa sehingga kita tidak terkejut dengan kejadian yang tidak menyenangkan. Tampaknya filosofi pendidikan di balik masalah dan cobaan Tuhan, yang dapat kita temukan dari sini ialah “manusia yang memiliki persepsi yang benar terhadap masalah kehidupan, mengelola dirinya sendiri dalam segala keadaan, dan menjaga keseimbangan mentalnya dalam kesejahteraan maupun Dengan dukungan Tuhan sedemikian rupa, serta optimisme kita untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan diri, kita tentu akan terhindar dari perasaan putus asa. Ditambah lagi, dalam sebuah hadis dikatakan, Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorangpun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran. HR. al Bukhari No 1469. Jadi, langkah utama dalam menghadapi keputusasaan ialah melalui tanggapan atau penerimaan yang tepat, bahwa segala macam ujian dan masalah hidup merupakan kesempatan untuk bertobat dan berkembang menjadi lebih baik baik Di dalam al-Quran, Allah SWT memotivasi kita untuk bersabar, tidak menyerah, dan fokus untuk menghadapi masalah yang ada. Kita selalu memiliki potensi pertahanan diri dan mental yang dapat kita manfaatkan sebanyak-banyaknya. Jangan pernah memandang bahwa kita sendirian dalam peristiwa pahit dan penderitaan. Sebab, Allah SWT bersama kita semua di manapun kita berada, bahkan Dia-lah yang paling dekat. Tuhan Maha Mengamati apa pun yang kita lakukan lakukan. Selvina AdistiaRedaktur Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
doa menghindari keputusasaan dalam menghadapi kematian